Dalam upaya terus meningkatkan mobilitas dan mengurangi kemacetan, transportasi massal Jakarta kembali menorehkan sejarah baru. Uji coba Lintas Raya Terpadu (LRT) Fase Kedua telah resmi dimulai pada Rabu, 10 September 2025, menandai langkah signifikan dalam pengembangan infrastruktur publik di ibu kota. Proyek ini diharapkan dapat menjadi solusi efektif untuk tantangan mobilitas yang dihadapi jutaan penduduk setiap hari, menghubungkan lebih banyak wilayah dengan jaringan transportasi publik yang modern dan terintegrasi.
Uji coba ini dilakukan untuk memastikan semua sistem, mulai dari persinyalan, rel, hingga kereta, berfungsi optimal sebelum resmi beroperasi penuh untuk masyarakat. Menurut Direktur Utama PT LRT Jakarta, Bapak Rahmat Priyanto, uji coba ini akan berlangsung selama tiga bulan, hingga 10 Desember 2025. “Kami melakukan pengujian secara komprehensif, melibatkan berbagai skenario untuk menjamin keamanan dan kenyamanan penumpang,” ujarnya saat ditemui di Stasiun Pegangsaan Dua, Jakarta Utara. Fase Kedua ini akan menghubungkan kawasan Pegangsaan Dua hingga Manggarai, melintasi beberapa pusat bisnis dan permukiman padat penduduk.
Pengembangan LRT Fase Kedua ini adalah bagian dari masterplan besar pemerintah provinsi untuk mengintegrasikan seluruh moda transportasi massal Jakarta. Proyek ini bertujuan untuk menciptakan simpul-simpul transportasi yang memungkinkan penumpang berpindah dari satu moda ke moda lainnya—seperti dari LRT ke Transjakarta atau KRL Commuter Line—dengan mudah dan efisien. Pada hari pertama uji coba, tim teknis dari Kementerian Perhubungan, bersama dengan PT LRT Jakarta, meninjau langsung operasional kereta. Kepala Proyek LRT Fase Kedua, Bapak Yudi Setyawan, menjelaskan bahwa lintasan baru ini memiliki panjang sekitar 13 kilometer dengan 8 stasiun baru. “Kami optimistis, dengan adanya fase ini, LRT akan menjadi pilihan utama bagi komuter di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan,” tambahnya.
Dampak positif dari beroperasinya LRT Fase Kedua ini diperkirakan akan sangat terasa. Tidak hanya mengurangi beban jalan raya, tetapi juga berpotensi menggerakkan roda ekonomi di sepanjang koridornya. Pembangunan stasiun-stasiun baru di titik strategis seperti Rawamangun, Matraman, dan Manggarai akan mendorong pertumbuhan area komersial dan residensial di sekitarnya. Hal ini sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menciptakan kota yang lebih berkelanjutan, di mana transportasi massal Jakarta menjadi tulang punggung mobilitas warganya.
Meskipun demikian, tantangan tetap ada. Salah satu tantangan terbesar adalah edukasi publik dan sosialisasi mengenai rute baru serta cara menggunakan layanan LRT. Oleh karena itu, PT LRT Jakarta berencana untuk mengadakan sosialisasi massal di berbagai komunitas dan institusi pendidikan pada bulan November 2025. Polisi Lalu Lintas, yang dipimpin oleh Kompol Budi Susilo, juga telah menginformasikan bahwa rekayasa lalu lintas sementara akan diterapkan di beberapa ruas jalan sekitar stasiun selama masa uji coba untuk menghindari kemacetan. Semua upaya ini menunjukkan koordinasi yang kuat antara berbagai pihak untuk memastikan keberhasilan proyek infrastruktur ini. Keberhasilan proyek ini akan semakin memperkuat posisi LRT sebagai salah satu moda transportasi massal Jakarta yang modern.
