Ketidakrasionalan adalah inti dari tahayul, sebuah kepercayaan yang sering kali didasari oleh logika yang sesat atau cerita turun-temurun tanpa bukti ilmiah maupun syariat. Islam, sebagai agama yang mendorong akal dan ilmu pengetahuan, secara tegas menolak praktik semacam ini. Mengikuti tahayul berarti mengabaikan akal sehat dan bimbingan wahyu, menjauhkan seseorang dari kebenaran dan kemajuan yang sejati.
Tahayul menunjukkan kebodohan karena ia mengabaikan prinsip kausalitas yang diajarkan oleh Islam: segala sesuatu terjadi atas sebab-akibat yang telah ditetapkan Allah. Percaya pada keberuntungan dari benda mati atau kesialan dari peristiwa acak adalah bentuk penolakan terhadap hukum alam yang Allah ciptakan. Ini adalah penyangkalan terhadap kekuatan akal yang telah Allah berikan kepada manusia untuk membedakan yang benar dari yang salah.
Sebagai agama yang komprehensif, Islam sangat mendorong umatnya untuk menggunakan akal dan ilmu pengetahuan. Ayat-ayat Al-Quran berulang kali menyeru manusia untuk berpikir, merenung, dan mengamati ciptaan Allah. Dengan berpegang pada tahayul, seseorang memilih untuk tidak menggunakan akalnya secara maksimal, sehingga jatuh ke dalam ketidakrasionalan yang merugikan diri sendiri dan masyarakat.
Bahaya ketidakrasionalan ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada kemajuan sebuah peradaban. Ketika masyarakat lebih percaya pada mitos dan takhayul daripada ilmu pengetahuan, inovasi dan pembangunan akan terhambat. Sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk riset dan pendidikan justru terbuang untuk praktik-praktik tidak berdasar, menunjukkan tingkat kebodohan yang merugikan.
Tahayul juga dapat menjerumuskan seseorang ke dalam syirik kecil, sebuah perbuatan yang menodai tauhid. Dengan menyandarkan harapan atau kekhawatiran pada selain Allah, baik itu benda, tanggal, atau ritual tertentu, seseorang telah mengabaikan keesaan Allah sebagai satu-satunya Penentu takdir. Ini adalah bentuk ketidakrasionalan yang sangat berbahaya bagi kemurnian akidah seorang Muslim.
Islam membimbing umatnya untuk mencari solusi atas permasalahan hidup melalui doa, ikhtiar, dan ilmu pengetahuan yang benar. Bukan dengan cara-cara mistis atau tahayul yang tidak memiliki dasar kuat. Dengan begitu, seorang Muslim dapat menghadapi hidup dengan rasionalitas dan ketenangan, karena ia tahu bahwa segala usahanya bergantung pada izin dan kehendak Allah semata.
Meningkatkan literasi keagamaan dan ilmu pengetahuan adalah kunci untuk memerangi ketidakrasionalan tahayul. Masyarakat perlu dididik tentang ajaran Islam yang benar, yang menekankan pentingnya tauhid murni dan penggunaan akal sehat. Dengan demikian, kebodohan yang melanggengkan tahayul dapat diminimalisir, dan umat dapat menjalani hidup sesuai tuntunan wahyu.
Singkatnya, tahayul adalah bentuk ketidakrasionalan dan kebodohan yang bertentangan dengan ajaran Islam yang mendorong akal dan ilmu pengetahuan. Dengan menyandarkan nasib pada hal-hal yang tidak berdasar, tahayul menodai tauhid dan menghambat kemajuan. Penting bagi umat Muslim untuk menjauhinya dan berpegang teguh pada bimbingan wahyu dan akal sehat.
