Revolusi Bolshevik yang meletus di Rusia pada Oktober 1917 memberikan guncangan hebat ke seluruh dunia, termasuk ke wilayah Hindia Belanda. Kemenangan kaum buruh di bawah pimpinan Lenin memberikan inspirasi baru bagi para aktivis sosialis di tanah jajahan. Hal inilah yang menjadi pemicu utama meningkatnya Radikalisme ISDV dalam melawan kolonialisme.
Sebelum revolusi tersebut pecah, organisasi yang didirikan oleh Henk Sneevliet ini cenderung bergerak dalam koridor diskusi teori sosial. Namun, keberhasilan kaum proletar Rusia merebut kekuasaan mengubah arah gerak organisasi secara drastis. Intensitas Radikalisme ISDV mulai nampak ketika mereka secara terang-terangan menyerukan penggulingan kekuasaan kapitalis di Indonesia.
Para pimpinan organisasi ini mulai mengadopsi taktik revolusioner yang lebih berani untuk menggerakkan massa buruh dan serikat kerja. Mereka tidak lagi hanya menuntut perbaikan upah, tetapi juga menuntut perubahan sistem politik secara total. Fenomena Radikalisme ISDV ini tercermin dalam berbagai tulisan di media massa mereka yang semakin provokatif.
Pengaruh Rusia juga membawa strategi infiltrasi yang dikenal sebagai “Blok di Dalam” ke organisasi massa seperti Sarekat Islam. Strategi ini sangat efektif untuk menyebarkan paham revolusioner kepada jutaan anggota pribumi di pedesaan. Perkembangan Radikalisme ISDV melalui taktik ini berhasil menciptakan faksi militan yang siap melakukan aksi-aksi pemogokan besar.
Pemerintah kolonial Belanda merespons perkembangan ini dengan rasa cemas yang sangat besar terhadap ancaman stabilitas keamanan negara. Mereka melihat bahwa pengaruh Bolshevik dapat memicu pemberontakan bersenjata yang membahayakan kepentingan ekonomi perusahaan Barat. Tindakan represif segera diambil untuk membatasi ruang gerak dan memadamkan bara api revolusi tersebut.
Banyak tokoh utama organisasi ini yang akhirnya ditangkap dan dibuang keluar dari wilayah Hindia Belanda oleh otoritas keamanan. Namun, pemikiran radikal yang sudah tertanam tidak mudah hilang begitu saja dari benak para aktivis muda pribumi. Semangat perlawanan kelas tetap membara meskipun organisasi secara formal mendapatkan tekanan yang sangat berat.
Transformasi ideologi ini akhirnya bermuara pada lahirnya partai komunis pertama di Asia yang sangat militan dalam pergerakan nasional. Warisan pemikiran dari Rusia telah mengubah struktur perjuangan rakyat Indonesia menjadi lebih terorganisir dan berideologi jelas. Sejarah mencatat bahwa fase ini adalah periode paling dinamis dalam perkembangan politik di Nusantara.
