Kisah KH Samanhudi, Pengusaha Batik yang Rela Korbankan Harta Demi Terwujudnya Kemerdekaan : Okezone Economy

JAKARTA – KH Samanhudi dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang ikut serta memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air.

Lahir di Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah pada 1868, Samanhudi yang memiliki nama Sudarno Nadi ini merupakan pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) yakni organisasi di Indonesia yang menyediakan wadah bagi para pengusaha batik di Surakarta.

Dia adalah pengusaha batik ternama di Surakarta dan memiliki keahlian yang baik dalam mempelajari agama islam hingga dikenal sebagai Kiai Haji Samanhudi.

Mengutip Ensiklopedia Pahlawan Nasional di Jakarta, Senin (14/8/2023), Samanhudi diketahui pernah menimba ilmu di sejumlah pesantren. Di antaranya, Pondok Pesantren KM Sayuthy (Ciawigebang), Pondok Pesantren KH Abdur Rozak (Cipancur), Pondok Pesantren Sarajaya (Kab Cirebon), Pondok Pesantren di Kab Tegal, Jateng, Pondok Pesantren Ciwaringin (Kab. Cirebon) dan Pontren KH Zaenal Musthofa (Tasikmalaya).

Ada satu guru yang sangat disukai Samanhudi, yakni Asysyahid K.H. Zainal Mushtofa yang juga merupakan Pahlawan Nasional. Dia banyak bercerita tentang kisah heroik perjuangan gurunya yang satu ini saat dirinya berjuang melawan penjajah Jepang hingga beliau gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa di depan regu tembak serdadu Jepang ketika makbaroh gurunya ini telah dipindahkan ke Taman Pahlawan Sukamanah, Tasikmalaya.

Pada zaman memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, KH Samanhudi ikut serta dalam perjuangan dengan mendirikan kelompok-kelompok pejuang. Dia juga memberikan bahan makanan kepada para pejuang yang bertempur di garis terdepan.

Saat itu, memberi dukungan pada perjuangan kemerdekaan dianggap sebagai bentuk pemberontakan oleh pemerintah Belanda.

Namun, KH Samanhudi tidak gentar dan siap mempertaruhkan jiwa raganya demi tercapainya kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya itu, dia bahkan rela mengorbankan harta yang dimilikinya.

Baca Juga  Helat Aktivasi dan Sosialisasi KTA-Berasuransi, Bacaleg ini Gandeng RPA Perindo Galakkan Kesejahteraan di Cipinang Jaktim : Okezone Megapolitan

Karena hal tersebut, KH Samanhudi dianggap sebagai pahlawan nasional pada tahun 1961.

Selain itu, KH Samanhudi memiliki media perjuangan bernama Taman Pewarta untuk memperluas informasi mengenai organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI) dan menjadi pemimpin hingga 1912.

Dituliskan dalam buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara bahwa Taman Pewarta bertahan selama 13 tahun sejak 1902-1915. Berarti Taman Pewarta sudah ada lebih dahulu dibandingkan Sarekat Dagang Islam yang baru dibentuk 16 Oktober 1905 dan berubah nama menjadi Sarekat Islam pada 1906.

Sebuah media bisa bertahan selama 13 tahun pada masa kolonial Belanda, tentu menjadi sebuah prestasi yang layak diberikan apresiasi. “Perlu diperhatikan, bahwa buletin Taman Pewarta ini bisa bertahan selama 13 tahun, karena isinya yang Islami dan merakyat. Adapun buletin lawannya berumur pendek karena dikonsumsi oleh kalangan terbatas, yakni kaum priyayi.” (Ahmad Mansur Suryanegara 2009: 314).

Baca Juga: Bertabur Hiburan dan Edukasi Keuangan, Pesta Rakyat Simpedes 2023 Siap Menyapa Warga Bandung


Follow Berita Okezone di Google News


Media tersebut menjadi wadah komunikasi yang efektif bagi perkembangan organisasi Sarekat Dagang Islam hingga dikenal sebagai organisasi niaga dan menjadi organisasi yang mempelopori kebangkitan nasional. 

Hal itu membuat pemerintah colonial Belanda kawatir dan mendirikan organisasi pesaing yang diberi nama Sarekat Dagang Islamiyah di Bogor pada 1909. Namun organisasi ini tidak bertahan lama dan bubar tahun 1911.

Sebaliknya, Sarekat Islam justru semakin berkibar sejak kepemimpinan, Oemar Said Cokroaminoto. Donald Eugene Smith pun mengatakan, Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto sebagai ketua Sarekat Islam telah berhasil memproklamirkan Islam sebagai lambang nasional.

Baca Juga  Rebecca Klopper viral video telegram link

Di masa mendatang, salah satu murid Oemar Said Cokroaminoto, Soekarno menjadi seorang proklamator kemerdekaan dan Presiden Pertama setelah Indonesia merdeka.

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *