Suasana di lokasi bencana yang seharusnya penuh dengan empati mendadak berubah menjadi palagan perselisihan yang sangat mencekam. Ketegangan memuncak ketika warga mendapati sekelompok orang asing yang mencoba masuk ke area reruntuhan rumah mereka secara ilegal. Para pelaku ini diduga kuat sedang Memanfaatkan Kepanikan warga untuk menguras harta benda yang masih tersisa di sana.
Warga yang semula sibuk menyelamatkan diri kini terpaksa mempersenjatai diri dengan peralatan seadanya demi menjaga keamanan lingkungan. Bentrokan fisik tidak terhindarkan saat para penjarah tertangkap basah sedang menggeledah tas milik pengungsi di tenda darurat. Aksi oknum yang tega Memanfaatkan Kepanikan ini benar-benar menyulut amarah massa yang sedang dalam kondisi trauma.
Kehadiran aparat kepolisian di lokasi kejadian segera meredam situasi sebelum amuk massa menjadi semakin tidak terkendali sepenuhnya. Petugas langsung mengamankan beberapa terduga pelaku yang mencoba melarikan diri melalui jalur tikus di belakang pemukiman warga. Sangat disayangkan bahwa masih ada pihak yang tega Memanfaatkan Kepanikan di tengah duka mendalam yang melanda masyarakat.
Kondisi gelap gulita akibat terputusnya aliran listrik di lokasi bencana semakin mempermudah aksi kriminalitas jalanan ini terjadi. Minimnya penerangan membuat warga harus ekstra waspada terhadap setiap pergerakan orang asing yang mendekati wilayah zona merah tersebut. Celah keamanan inilah yang sering kali dijadikan kesempatan bagi para penjahat dalam Memanfaatkan Kepanikan situasi lapangan.
Pemerintah daerah mengimbau agar seluruh masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan tindakan main hakim sendiri terhadap para pelaku. Penambahan personel keamanan kini mulai dikerahkan untuk berpatroli secara rutin di titik-titik rawan penjarahan selama masa darurat. Hal ini dilakukan untuk mencegah oknum tidak bertanggung jawab kembali Memanfaatkan Kepanikan demi kepentingan pribadi semata.
Trauma psikologis yang dialami warga kini menjadi berlapis akibat hilangnya rasa aman di tempat pengungsian mereka sendiri. Selain harus kehilangan tempat tinggal, mereka kini dihantui rasa waswas akan keamanan barang-barang berharga yang mungkin tertimbun. Pelaku yang Memanfaatkan Kepanikan telah merusak tatanan sosial dan rasa saling percaya di antara sesama korban bencana.
Solidaritas antarwarga menjadi benteng pertahanan terakhir untuk menjaga keamanan lingkungan dari ancaman pihak luar yang berniat jahat. Mereka mulai membangun posko keamanan swadaya dan menerapkan sistem buka tutup akses masuk ke wilayah yang terdampak musibah. Strategi ini terbukti cukup efektif untuk mempersempit ruang gerak bagi siapapun yang ingin Memanfaatkan Kepanikan tersebut.
