Siapa sangka di balik gemerlap lampu gedung pencakar langit dan kemacetan yang tiada habisnya, Jakarta sebenarnya masih menyimpan sisi liar yang jarang diketahui banyak orang saat matahari mulai terbenam. Hewan malam seperti kelelawar buah, burung hantu, hingga berbagai jenis serangga unik ternyata masih setia menghuni sisa-sisa ruang terbuka hijau di tengah hutan beton ini. Mereka adalah penghuni rahasia yang mulai aktif ketika manusia mulai beristirahat, bergerak dalam kegelapan untuk mencari makan atau sekadar berpindah tempat di antara pepohonan kota. Kehadiran mereka membuktikan bahwa alam tetap mencoba bertahan meski ruang geraknya semakin sempit akibat pembangunan yang sangat masif di setiap sudut ibu kota kita tercinta ini.
Salah satu jenis hewan malam yang paling sering terlihat melintas di langit Jakarta adalah kelelawar buah atau sering disebut codot oleh warga lokal. Kelelawar ini memiliki peran yang sangat penting bagi ekosistem kota karena mereka membantu penyerbukan berbagai pohon buah dan menyebarkan biji-bijian di taman-taman kota yang masih tersisa secara alami. Meskipun sering dianggap menyeramkan oleh sebagian orang karena terbang di kegelapan, mereka sebenarnya adalah petani alami yang bekerja tanpa bayaran untuk menjaga keberagaman tanaman di Jakarta. Tanpa adanya aksi senyap dari mereka di malam hari, mungkin banyak pohon peneduh di sekitar komplek perumahan kita tidak akan bisa tumbuh subur dan beregenerasi dengan baik seperti sekarang.
Selain mamalia terbang, langit Jakarta juga menjadi saksi bisu perjuangan hewan malam dari jenis burung pemangsa seperti burung hantu jenis serak jawa yang sering bersarang di gedung tua. Burung-burung ini adalah pengendali hama alami yang sangat efektif karena mereka memangsa tikus-tikus got yang populasinya sangat banyak di wilayah perkotaan yang padat penduduk. Suara kepakan sayap mereka yang senyap membuat mereka menjadi pemburu yang sangat mematikan di kegelapan, menjaga keseimbangan populasi hewan pengerat tanpa perlu bantuan racun kimia yang berbahaya. Sayangnya, karena cahaya lampu kota yang terlalu terang atau polusi cahaya, navigasi burung-burung hebat ini seringkali terganggu saat mereka sedang berusaha mencari titik koordinat mangsanya di permukaan tanah.
